Banting Setir

Februari 10, 2008 at 9:08 am (rahasia) (, , )

Keterpaksaan & Tawaran

Menurut Aristotle, faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu itu pada umumnya : perubahan, keadaan alam, paksaan, kebiasaan, visi (alasan mendasar), dorongan dari dalam (semangat atau motivasi, keinginan atau kemauan). Petuah ini mungkin pas untuk menjelaskan bagaimana seseorang akhirnya memilih pindah bidang karir, profesi atau usaha. Kita sering menyebutnya dengan istilah banting setir.

Memang harus diakui bahwa mengambil keputusan untuk banting setir ini bukan hal yang mudah. Ini mungkin terkait dengan beberapa hal di bawah ini:

1. Ketidakpastian.

Yang kita pedomani saat hendak melakukan jurus banting setir adalah kalkulasi di atas kertas putih, bayangan mental, perkiraan rasional atau peta (the map). Seperti kata Alfred Korzybzki: “The map is not the territory.” Artinya, meski kita sudah memperhitungkan sebegitu rupa, tetapi kita pun tahu bahwa dalam prakteknya nanti kenyataan bisa bergerak liar. Tidak adanya garansi keberhasilan itulah yang membuat kita berat.

2. Keahlian, pengalaman, dan jaringan.

Ketiga hal ini juga kerap membuat kita merasa berat untuk banting setir. Di dalam hati kecil memang ada keinginan untuk banting setir karena alasan-alasan yang sudah kita kantongi, tetapi kita terkadang masih meraba-raba sejauh mana kita memiliki keahlian, pengalaman dan jaringan di bidang baru, profesi baru atau usaha baru itu. Ini juga yang terkadang membuat kita berat.

3. Penghasilan.

Sebagian besar kita ingin melakukan praktek banting setir untuk mendongkrak penghasilan. Kita ingin mendapatkan penghasilan yang lebih dan itu menurut kita tidak mungkin didapat dari pekerjaan atau profesi yang kita geluti selama ini. Meski begitu, kita juga sadar bahwa penghasilan yang lebih banyak itu sepertinya tidak mungkin bisa didapatkan langsung. Ada masa transisi yang mungkin jauh lebih buruk dari yang kita perkirakan. Membayangkan masa transisi inilah yang membuat kita berat.

Ketiga alasan itulah yang kerap membikin banyak orang lebih memilih selamat dari ancaman ketimbang memperjuangkan yang lebih bagus (security vs maturity). Dari banyak orang yang saya ajak bicara, umumnya mereka mengatakan bahwa keputusannya untuk banting setir dulu karena “keterpaksaan” atau adanya force tertentu yang sifatnya sudah benar-benar super urgent. Ini misalnya saja: terkena PHK, bertengkar sama atasan, punya kasus di tempat kerja lama, sudah tidak menemukan celah yang memberikan harapan lebih bagus di bidang yang sekarang ini, bangkrut, merasa sudah kalah bersaing, harus pensiun, harus bayar utang, sudah malu mengajukan aplikasi, dan seterusnya.

Ada juga yang akhirnya memutuskan untuk banting setir karena ada tawaran atau peluang (new opportunity). Kalau membaca laporan Eric Digest (Changing Career Pattern, Brown, Bettina Lankard, 2000), ini biasanya dialami oleh orang-orang yang baru memasuki pasar kerja (alumni baru). Perkembangan sains dan teknologi telah memberikan berkah tersendiri buat mereka. Kebanyakan mereka banting setir bukan karena nganggur, tetapi karena tawaran dan peluang.

Apa yang perlu dipersiapkan?

Teorinya, ketika apa yang kita tekuni itu belum membuahkan hasil seperti yang kita inginkan, maka idealnya diperlukan dua sikap. Pertama, kita bisa tetap menekuninya sambil mengembangan berbagai opsi dan alternatif (memperbanyak, memperluas atau meningkatkan kualitas). Kedua, kita banting setir untuk meraih yang lebih bagus.

Bagi yang dalam posisi “terpaksa” harus banting setir, rasanya sudah tidak relevan lagi Anda memikirkan berat atau ringan. Berat atau ringan sama saja, sebab Anda harus menghadapinya. Justru yang lebih dibutuhkan adalah memperkuat persiapan dan pertahanan. Ini antara lain adalah:

1. SWOT-lah Diri Anda

Ini istilah yang sudah jamak kita ketahui. SWOT berarti mengetahui kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity), dan ancaman (Threat). Dengan kata lain, lihat dulu ke dalam lalu lihatlah ke luar. Ini penting supaya kita tidak sampai salah memilih bidang atau profesi baru. Atau minimalnya tidak terlalu jauh relevansinya. Sekedar sebagai masukan, kita bisa memilih bidang atau profesi yang relevansinya dekat dengan kita, misalnya: pengalaman kerja selama ini, latar belakang pendidikan, kebiasaan yang sudah kita jalani (hobi, interest, dst) atau lingkungan (kebutuhan pasar di tempat kita berada).

2. Yakinilah alasan

Banting setir pekerjaan, profesi atau usaha itu mirip seperti bertempur dalam cuaca berkabut. Tidak ada teori yang bisa menjelaskan dari A – Z bagaimana akhir sebuah pertempuran nanti. Dengan logika ini, ada nasehat dari Sun Zu yang bisa diingat. Lima peraturan bertempur menurut Sun Zu adalah:

• Keyakinan: harus meyakini alasan kenapa anda bertempur

• Sekutu: pilihlah sekutu yang saling memperkuat

• Waktu: perhitungkan waktu yang tepat untuk bertempur

• Ruang / lokasi: pahami di mana pertempuran akan terjadi

• Strategi: tentukan strategi yang cocok

Jika anda tidak memiliki alasan yang anda yakini atau tidak meyakini alasan yang anda ciptakan sendiri, mungkin spirit anda akan gampang dipatahkan oleh realitas yang akan anda hadapi. Studi mengungkap bahwa keyakinan dan optimisme yang dimiliki oleh mereka yang berhasil banting setir itu sebesar di atas 80 % (yakin berhasil). Sementara, yang gagal di tengah jalan hanya memiliki keyakinan dan optimisme sebesar antara 50–60 % (setengah yakin setengah ragu.

3. Menggali dan memperluas

Semua bidang di dunia ini memiliki keakhasan yang merupakan hasil bauran dari perbedaan dan persamaan. Ada prinsip-prinsip umum yang sama dan juga ada tehnik-tehnik spesifik yang berbeda. Karena itu, kita tidak bisa memakai pengetahuan dan pengalaman masa lalu seratus persen tetapi juga tidak bisa membuangnya seratus persen. Yang kita butuhkan adalah menggali dari yang lama dan memperluas yang baru. Meminjam istilah yang dipakai para ahli di bidang karir, kita perlu melakukan “stretching” pengalaman dan pengetahuan di masa lalu dan menjadi learner (membaca teori, mengoreksi praktek). Dengan latar belakang yang lebih “heterogen”, bisa jadi kita malah akan menjadi lebih unggul dari pemain lama yang latar belakangnya homogen.

4. Memperluas jaringan

Seperti kata Sun Zu, anda membutuhkan sekutu yang cocok, pasangan yang pas atau mitra yang OK. Tidak mungkin anda bisa memenangkan pertempuran dengan hanya seorang diri. Hanya memang perlu diingat, untuk mendapatkan yang cocok ini biasanya membutuhkan eksplorasi (pengembaraan). Di sini yang dibutuhkan adalah kehati-hatian dan keberanian. Hati-hati supaya anda tidak ketemu orang yang salah dan berani supaya jaringan anda luas.

Di lain pihak, ada baiknya juga kalau anda membuat semacam peta dukungan. Kenapa? Untuk usaha yang sudah mapan atau karir yang sudah mantap, biasanya kebutuhan kita terhadap kontribusi orang lain itu sudah terukur. Tetapi untuk yang baru merintis, biasanya banyak sekali kebutuhan yang tidak bisa kita cover sendiri dan tidak bisa pula dapat dicover oleh satu orang. Artinya, kita butuh banyak orang yang bisa menjadi sumber solusi, seperti yang dilakukan Henry Ford. Butuh apa saja dia punya orang yang bisa dihubungi. Kira-kira begitulah ilustrasinya.

5. Gunakan “Cyberneticlike”

Ini adalah teori tentang model berpikir. Lawannya adalah “Robotlike” thingking model. Cyberneticlike adalah model berpikir yang menekankan pentingnya kecepatan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, stimuli baru atau perubahan baru dan kemampuan menemukan sumber informasi atau kemampuan mengumpulkan informasi yang kita butuhkan. Untuk orang / usaha yang sudah settle, sumber informasi dan jenis informasi yang kita butuhkan biasanya sudah ada standar. Tapi ini biasanya tidak berlaku untuk orang yang baru menerjuni bidang baru. Karena itu dibutuhkan kemampuan beradaptasi dengan kecepatan tinggi.

6. Fokus pada kebutuhan dan masalah

Untuk usaha atau pekerjaan yang sudah mapan, kita punya banyak pilihan dan resource. Ibarat orang menembak, jika satu peluru meleset, kita masih punya cadangan. Tapi ini jarang terjadi pada usaha atau pekerjaan yang baru kita rintis. So, batasi keinginan, ambisi yang berlebihan dan khayalan yang muluk atau gengsi. Bila kebutuhan kerja masih bisa ditangani dengan peralatan lama yang masih layak, ya nggak usah harus beli serba baru. Bila lobi masih bisa dilakoni dengan cara yang pantas, ya nggak usah pakai cara yang “wah”. Jor-joran terkadang malah kurang bagus bagi kesehatan pikiran dan kemajuan usaha kita.

7. Lapisi dengan “resource”

Idealnya, sebelum kita memutuskan untuk banting setir, harus ada resource atau sumber solusi yang bisa diandalkan. Ini misalnya saja kita memiliki pekerjaan lain yang bisa membantu (supportive), punya usaha lain, punya tabungan, punya pasangan yang masih kerja, punya keluarga yang membantu.

Bagaimana kalau tidak punya sama sekali? Kita harus berani menangani pekerjaan apa saja sebagai bantuan untuk mewujudkan rencana. Pinter-pinternya kita membagi waktu dan konsentrasi. Tehnik ini sudah pernah dijalani Iwan Fals, Bob Sadino dan sejumlah manusia lain sebelum banting setir. Sambil ngamen dan sambil nyopir, Iwan tetap menjalankan agenda pertamanya, yaitu menjadi musikus. Sama juga seperti yang dilakoni JK. Rowling. Sambil menjalani pekerjaan yang ia tidak sukai, ia tetap berlatih menulis.

Apa yang harus Anda hindari?

Dari praktek yang saya amati, ada beberapa hal yang menurut saya perlu kita hindari. Ini antara lain:

1. Kalah oleh ketakutan

Ketakutan itu bisa menjadi penggerak kemajuan, tetapi juga bisa menjadi penghambat. Kapan menjadi penggerak? Ketika ketakutan itu kita gunakan untuk mengantisipasi atau melakukan sesuatu dengan kualitas yang lebih bagus. Lalu kapan akan menjadi penghambat? Ketika kita yang dikuasai ketakutan. Kita takut gagal tetapi ketakutan itu tidak kita gunakan untuk mengantisipasi atau memperbiki. Atau kita menggunakannya untuk melakukan sesuatu setengah hati, setengah takut setengah memaksakan diri.

Dari pengamatan Tom Hopkins, seperti yang ditulisnya dalam “Eliminate Demotivators From Your Life”, ada empat hal yang kerap menjadi demotivator seseorang. Keempat hal itu adalah:

§ Rasa terancam oleh ketidakpastian (fear of insecurity).

§ Rasa takut oleh jangan-jangan nanti gagal (fear of failure).

§ Spirit yang setengah-setengah dalam bertindak (self doubt)

§ Rasa sakit saat menghadapi perubahan (pain of change) atau pasrah pada nasib buruk.

Dalam prakteknya, apa yang dipesankan petuah kuno itu kerap terjadi. Petuah kuno itu berpesan: “Barang siapa yang takut lubang, bisanya malah masuk ke lubang itu.” Supaya kita tidak kalah oleh ketakutan sendiri, ya gunakankanlah ketakutan itu sebagai antisipator, energizer atau “corrector”.

2. Ikut-ikutan

Kita perlu belajar banyak dari orang lain yang sudah jadi, tetapi perlu menghindari praktek ikut-ikutan. Apa bedanya “belajar dari” dan “ikut-ikutan”? Belajar dari orang lain artinya kita menjadikan apa yang dilakukan orang lain sebagai materi yang akan kita gunakan untuk memperbaiki apa yang kita lakukan atau untuk mencegah kegagalan karena “kebodohan”. Belajar dari orang lain artinya diri kita aktif di situ dengan seperangkat pengetahuan atau pengalaman yang kita miliki atau yang sudah kita jalankan. Silahkan saja Anda mempelajari cara yang sudah dipakai orang lain dan itu terbukti berhasil, tetapi jangan lupa menggunakan prinsip “belajar dari”, bukan ikut-ikutan atau sekedar menjiplak!

3. Jangan menjalaninya sebagai beban

Terlepas apakah Anda banting setir karena terpaksa atau karena inisiatif sendiri, sekarang ini sudah tidak saatnya lagi Anda menjalaninya dengan penuh beban. Penuh beban di sini artinya Anda tidak mencintai bidang usaha atau profesi yang Anda pilih. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, ini biasanya muncul sebagai akibat dari keinginan-keinginan yang tidak terkontrol atau keinginan yang tidak sesuai dengan keadaan kita hari ini. Keinginan demikian dapat menciptakan hubungan yang tidak harmoni dengan diri sendiri. Lama kelamaan lahirlah konflik diri. Silahkan punya keinginan asalkan realistis.

4. Jangan bongkar pasang rencana karena nafsu

Memang ada kenyataan yang “menuntut” kita perlu berubah di tengah jalan. Entah itu rencana, cara, strategi atau bahkan bidang usaha atau profesi. Cuma, di sini perlu dibedakan mana bongkar-pasang yang diikuti dengan hawa nafsu (tanpa kematangan berpikir dan kesabaran) dan mana keharusan untuk berubah sebagai strategi atau jurus yang lebih bagus.

Dari masukan beberapa orang yang saya ajak bicara, ada kalimat yang bisa kita pedomani. Orang yang matang itu melakukan rencananya sepenuh hati dan mengubah rencananya dengan hati-hati. Ini beda dengan orang yang belum matang. Mereka menjalankan rencanya setengah hati lalu mengubahnya “seenak-hati”(baca: bongkar pasang). Bongkar pasang demikian seringkali justru malah memperlambat perjalanan menuju tujuan.

5. Tak tahu keterbatasan

Ada pengalaman kecil dari orang yang saya kenal. Ini memang terjadi pada wilayah bisnis yang dia jalani. Awalnya, dia coba menangani semua urusan sendiri, dari mulai mencari uang, mengelola uang, menciptakan produk, memasarkan, dan lain-lain. Lama kelamaan dia mulai sadar kalau ternyata cara ini malah membikin dirinya tidak produktif. Terlalu banyak hal yang kita tangani terkadang malah membuat kita tidak produktif. Jadi, di samping kita perlu mengetahui apa saja yang bisa kita tangani, kita pun perlu tahu apa saja yang belum / tidak bisa kita tangani sendiri. Ini agar kita menjadi lebih produktif. Mengetahui kekuatan sama pentingnya dengan mengetahui keterbatasan.

Semoga bisa menambah jurus anda!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: