Ramalan Politik 2008

Januari 6, 2008 at 6:27 am (Uncategorized)

Ramalan Politik 2008

Pekan ini saya dua kali ditanggap jadi dukun peramal politik 2008. Saya bilang suhu politik kayak orang demam karena, pertama, faktor harga minyak dunia.

Itulah hebatnya negara ini: kaya energi, tetapi harga minyak tanah dan BBM naik melulu. Itulah hebatnya negara ini: Adenan Lis kabur, tetapi jadi tuan rumah KTT antihutan gundul.

Faktor kedua, perjuangan sengit calon-calon indie boleh ikut Pemilu-Pilpres 2009. Ingat, makin banyak tokoh daur ulang yang bertualang dari orde ke orde yang ingin adu nasib.

Mereka dibantu para “pendekar” demokrasi yang akan membentuk GIM (Gerakan Indonesia Merdeka). Ingat, GIM terinspirasi GJM (Gerakan Jakarta Merdeka), GJM terinspirasi GAM, dan GAM terinspirasi orang-orang bulé.

Faktor ketiga, ketidakpastian persiapan pemilu-pilpres. Jumlah anggarannya saja sudah naik-turun, apalagi jumlah formulir, kotak, dan paku penusuknya.

Dan faktor keempat, ketegangan penyelenggaraan lebih dari 100 pilkada 2008-2009. Jika “kadal-kadal” kebanyakan menenggak “pil koplo”, akibatnya tanggung sendiri.

Jangan takut, demam 2008 tak membuat negara ini kejang-kejang. Kerusuhan tak terjadi jika rakyat dihibur happening arts ala demonstrasi reog Ponorogo di depan Kedubes Malaysia tempo hari.

Masalah terbesar 2008 degradasi perilaku politik the ruling elite. Ibarat sepak bola, perilaku mereka seperti bekas pemain nasional yang kena degradasi jadi pemain “tarkam” (antarkampung) yang honornya murah.

Degradasi terjadi karena absennya kepemimpinan (in the absence of leadership). Memang hari-hari ini banyak pejabat yang absen di kantor karena berbondong-bondong ke Bali.

Degradasi terlihat, misalnya, dari proses pemilihan pimpinan KPK di DPR. Maka perang terhadap korupsi tetap akan tebang pilih, pilih kasih, dan “kasih tahu saya dulu dong”.

Padahal, perang terhadap korupsi mesti segalak perang terhadap terorisme. Tirulah Presiden AS George W Bush pemimpin yang ogah disebut indecisive coward dan bangga karena tegas walau pandir.

Degradasi meluaskan apatisme yang terlihat dari peningkatan jumlah golput di pilgub DKI. Rakyat punya cara untuk melawan, seperti kata lirik lagu Apatis, yakni “roda-roda terus berputar, tanda masih ada hidup”.

Bukan mustahil jumlah golput Pemilu-Pilpres 2009 lebih besar dari angka maksimal sekitar 23 persen tahun 2004. Kalau saya maunya yang milih 23 persen.

Apatisme menyebabkan deligitimasi jajaran eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Eksekutifnya lebih pasif, legislatifnya tetap non-aktif, dan yudikatifnya masih saja kayak cerita fiktif.

Deligitimasi biasanya diikuti political decay. Makanan basi menyebarkan bau busuk dan mengundang kedatangan lalat-lalat hijau.

Namun, deligitimasi tak menyadarkan elite agar tobat. Mereka justru makin hilang rasa percaya diri seperti penyanyi demam panggung bersuara sumbang.

Akibatnya, rakyat melempari dia dengan botol dan minta kembali uang tiket. Mereka mengira yang manggung Beyoncé, eh yang nongol penyanyi dangdut tingkat kelurahan.

Akibat lanjutannya wibawa dan kewenangan pemerintah tergerogoti. Itulah kalau keseringan menggerogoti hak milik rakyat.

Para anggota DPR sibuk dengan fit and proper test yang penuh tanda tanya. Jangan-jangan tes kayak gitu sudah tidak sehat (unfit) dan tidak pantas (improper) dilakukan lagi.

Para pejabat yudikatif pun dianggap idem ditto. Jika pemeriksaan korupsi diperintahkan koruptor kepada aparat yang ditengarai pernah korupsi, ya mau apa?

Degradasi itulah yang menyebabkan politik makin kering, hampa ideologi, dan membuat politik tak mengasyikkan. Jika tenggorokan kering, perut hampa makanan, hidup enggak asyik lagi.

Satu-satunya hiburan, ya, seringlah tertawa. Sejatinya humor lebih benar daripada fakta.

Memercayakan kekuasaan kepada eksekutif/legislatif/yudikatif tak ubahnya menyerahkan tiga botol bir dan kunci mobil kepada anak yang belum punya SIM. Ya, wajar ia menabrak tiang listrik.

Mungkin rakyat “salah” karena paham seluk-beluk politik. Mereka yang berkuasa “benar” karena tak paham tujuan politik itu mulia.

Saya suka iba jika ada teman yang tertarik jadi anggota DPR. “Apa enggak ada kerjaan lain?” tanya saya.

Pepatah mengatakan jangan lekas percaya kepada dua hal di dunia ini: nasib dan pemerintah. Mereka sering sama-sama apes.

Saya suka bingung melihat pejabat dan anggota DPR yang hafal pasal-pasal UUD 1945, terutama yang ada kata “adil” dan “makmur”. Ah, lebih baik menghafal manual mobil karena banjir mengancam Jakarta.

Mereka jago berbicara hidup akan sejahtera, generasi muda akan pintar, dan rusun akan banyak. Kenyataannya rumah mereka lebih mewah, iuran sekolah naik terus, dan rakyat merasa lebih pandir.

Coba sesekali eksperimen gonta-ganti saluran TV: interupsi Sidang Paripurna DPR, pidato pejabat, penyidikan korupsi di KPK, dan adegan sinetron. Matikan suara TV dan Anda pasti langsung membatin… lho, kok sama ya?

Tidaklah susah meramalkan kondisi politik 2008. Ia penuh drama, tontonan yang murah tapi meriah, dan tak memberikan manfaat apa-apa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: