Keretek Majalaya Tinggal Tunggu Waktu

November 7, 2007 at 3:11 am (keretek)

KERETEK ternyata tak bisa diabaikan begitu saja dalam sejarah Majalaya. Di masa lalu, sejumlah jalan, bahkan jembatan, di kota kecamatan yang terletak 22 km tenggara Kota Bandung itu dibangun atas inisiatif para kusir. Setiap kali, para kusir dan penarik becak membayar iuran senilai Rp 10,00, sedangkan pengemudi mobil Rp 25,00.

Enjang Jakaria (56), kokolot tukang keretek di Majalaya, mengungkapkan, dulu keretek diharuskan menggunakan peneng (semacam pelat nomor polisi, red.). ”Tak cuma keretek, sepeda juga harus dipeneng. Itu dijadikan sebagai sumber penghasilan pemerintah.”

Keretek, kata Enjang, merupakan hasil dari metamorfosis dua kendaraan sejenis, yakni kahar dan delman. Keduanya kemudian ditinggalkan karena alasan daya angkut yang kurang banyak. ”Berdasarkan penuturan, kahar sudah digunakan sebagai sarana angkutan pada awal 1900-an atau mungkin sebelumnya. Berpuluh tahun kemudian, digantikan delman. Namun, delman tak memungkinkan orang untuk memuat barang dalam jumlah yang banyak. Karenanya, kira-kira tahun ‘40-an, angkutan itu digantikan keretek,” kata Enjang.

Enjang mengatakan, di masa lalu, menarik keretek merupakan profesi yang digeluti banyak warga Majalaya. Alhasil, seiring sepenanggungan di jalanan membuat orang-orang itu memiliki solidaritas dan soliditas yang tinggi. Padahal, tak pernah sekalipun mereka mengorganisasikan diri ke dalam sebuah perkumpulan.

”Itu terjadi pada 1967, ketika saya dinobatkan sebagai kokolot tukang keretek. Meski tak mengorganisasi diri, kami berkomitmen untuk berpartisipasi dalam pembangunan Majalaya. Karenanya, kami iuran untuk membangun jalan, bahkan jembatan. Ya, waktu itu, paling-paling iuran yang kami wajibkan senilai Rp 10,00. Tapi, kami juga menarik iuran kepada para pengemudi mobil dan sejenisnya Rp 25,00. Alhamdulillah, kesampaian,” ujarnya.

**

TAHUN 1997, keretek kembali bermetamorfosis, tapi tak mengubah nama. Roda keretek yang semula terbuat dari kayu diubah menjadi ban. ”Dengan demikian, keretek semakin mudah dibuat. Kian hari, jumlah tukang keretek pun semakin bertambah. Saat ini, ada sekitar 750 unit keretek yang beroperasi di Majalaya,” ujar Enjang.

Padahal, semakin hari, ”ladang uang” untuk para tukang keretek semakin menyempit, kalah bersaing dengan angkutan kota (angkot). ”Saat ini, tak banyak lagi tukang keretek yang beroperasi di kulon (arah Ciparay-red.). Semuanya, sekarang, menumpuk di timur, arah ke Cipaku. Para tukang keretek berebut rezeki, di situ,” tuturnya.

Belakangan, nasib keretek makin bertambah suram. Dalam anggapan banyak pihak di Majalaya, keretek dianggap sebagai sumber utama penyebab kesemrawutan Kota Majalaya. Menerima tudingan itu, Enjang Jakaria hanya bisa mengusap dada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: