Bush = Predator

Januari 6, 2008 at 4:59 am (Amin Rais)

Bush = Nekat = Predator

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Tampaknya seorang penguasa, atau lebih pantas disebut kaisar tipe abad tengah, seperti Presiden Bush, sulit sekali membuka telinga untuk mendengar seruan kebenaran. Dulu alasan utama untuk menyerang Irak tahun 2003 adalah karena katanya Saddam Hussein menyimpan senjata pemusnah massal, tetapi ternyata tuduhan itu hanyalah sebuah isapan jempol.

Kemudian setelah Irak hancur, mata pedangnya diarahkan kepada Iran karena negara ini dituduh sedang mengembangkan persenjataan nuklir. Dr Muhammad Al Baradei, direktur jenderal IAEA sudah berkali-kali mengatakan bahwa pengembangan nuklir Iran semata-mata bertujuan damai, sama sekali tidak punya dimensi persenjataan atau militer. Tetapi, telinga Bush dan pendukungnya kelompok neo-konservatif Amerika tetap saja tertutup. Ambisi untuk menyerang Iran terus saja diagendakan, sementara Israel yang sudah lama punya senjata nuklir dibela sampai ke ujung langit. Tidak peduli apa kata dunia, pokoknya Israel tidak boleh diganggu. Semetara itu, negara-negara Arab karena virus perpecahan yang terus menggerogoti mereka telah lama lumpuh menghadapi agresi Israel dengan dukungan penuh Amerika. Kemerdekaan Palestina yang dulu pernah dikatakan Bush akan terjadi tahun 2005, semakin tidak jelas saja. Ironisnya lagi, perseteruan Hammas dan Fatah sebagai wabah internal Palestina telah semakin melemahkan posisi bangsa yang menderita ini dalam upaya mendapatkan kemerdekaannya. Bahwa Iran ingin menjadi yang dipertuan di kawasan Asia Barat, memang tidak dapat disangkal. Inilah sebenarnya yang dicemaskan Amerika karena akan sangat mengganggu dominasi imperialistiknya di bumi yang kaya minyak ini. Sebab itu harus dicari segala akal agar Iran tidak tampil sebagai negara terkuat di wilayah ini. Dalam pada itu, untuk menghadapi Iran, negara-negara Arab tertentu sesungguhnya lebih memercayai Amerika sebagai pelindung.

Dengan demikian pertanyaan tentang di mana peran dan posisi Alquran di kalangan negara-negara Muslim itu menjadi tidak relevan. Baik negara-negara Arab maupun Iran telah berabad-abad memiliki tafsiran sendiri terhadap Kitab Suci ini dengan akar teo-politik yang sulit didamaikan. Pertanyaan itu baru relevan jika semuanya mau membebaskan diri dari subjektivisme historis dan kepentingan duniawi. Tetapi, siapa yang mau memulai terobosan strategis itu? Di sinilah terletaknya masalah pelik itu. Kembali ke isu nuklir Iran. Hari-hari ini Bush tengah menghadapi tantangan yang sangat serius, justru datang dari Badan Pertimbangan Intelijen Nasional Amerika (NEI) sendiri, bukan lagi dari IAEA yang dipimpin Al Baradei itu, seorang Muslim asal Mesir. NEI dalam laporannya setebal 100 halaman baru saja membeberkan bahwa Iran telah menghentikan program senjata nuklirnya sejak tahun 2003. Dengan fakta ini habislah alasan untuk menyudutkan Iran dengan segala macam sanksi PBB hasil rekayasa Amerika. Tetapi, untuk kepentingan neo-imperialismenya, Amerika pasti akan tetap nekat sampai Iran hancur pula. Maka, julukan yang dipasangkan penulis Perancis Emmanuel Todd terhadap Amerika sekarang sebagai predator, bukan lagi protektor (pelindung), sangat beralasan dan tepat sekali. Dalam kaitannya dengan Amerika sekarang, watak predator itu tampak dalam nafsu untuk memangsa siapa atau apa saja yang dipandang sebagai perintang bagi terwujudnya sebuah ambisi besar mengangkangi dunia. Sebuah ambisi utopis yang sudah sangat kesiangan, tetapi Bush tetap saja nekat untuk memburunya. Inilah sumber malapetaka global itu. Quo vadis Amerika?

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Berjuang Membangun Umat dan Bangsa

Januari 6, 2008 at 4:57 am (Amin Rais)

Berjuang Membangun Umat dan Bangsa

M. Amien Rais

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Takbir, Tasbih, Tahmid dan Tahlil Hamdalah

Saudara-saudara kaum Muslimin dan muslimat yang berbahagia. Mariiah kita bersama bersyukur pada Allah Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan barokah Nya pada kita semua. Juga marilah kita senantiasa bertaqwa pada Allah dengan selalu memperteguh iman kita, memperbanyak amal shalih kita dan meningkatkan ihsan kita.

Sebagai umat dan bangsa, kita perlu menangkap ajaran Islam untuk memulihkan semangat dan kesanggupan berkurban kita. Mengorbankan sesuatu dengan ikhlas untuk kebaikan bersama kadangkala terasa berat. Akan tetapi sejatinya, kehidupan tanpa pengorbanan adalah kehidupan yang kosong dan hampa.

Sedangkan hidup yang disertai dengan pengurbanan untuk kebaikan bersama, hakekatnya justru menjadikan hidup lebih bersemangat, bergairah dan penuh vitalitas. Malah al-Qur’an sendiri mengajari kita supaya memilih jalan yang mendaki, jalan yang menuntut pengurbanan. Namun di ujung jalan yang mendaki itu terbentang kebahagiaan dunia dan akherat

Allah berfirman :

Kami telah menunjukkan kepada manusia dua jalan. Maka pilihlah jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu, apa jalan yang mendaki lagi sukar itu? Melepaskan sahaya dari perbudakan. Atau memberi makan tatkala terjadi masa kelaparan. Kepada anak yatim yang masih menjadi kerabat. Atau orang miskin yang sangat papa. (al-Qur’an: AI-Salad 10-16)

Allahu Akbar walillahil hamd.

Saudara-saudaraku, memang pada jaman kita tidak ada lagi lembaga perbudakan. Namun sebagian rakyat kita yang termasuk lowest class atau under class masih berjumlah puluhan juta. Sekarang ini rakyat kita yang kehidupannya sehari dibawah 1 dolar masih berjumlah sekitar 38 juta. Sedangkan yang hidup dibawah 2 dolar sehari lebih dari 100 juta. Sementara TKl/TKW kita yang bekerja di manca negara seringkali diperlakukan seperti hamba sahaya.

Potret bangsa kita sampai kini masih buram, belum menampakkan sinar terang yang menjanjikan. Tatkala negara-negara di kawasan lain sudah menapak ke tahapan sejahtera dan mantap secara sosial, politik dan ekonomi, Indonesia masih terhuyung-huyung mencoba berdiri dan berjalan dengan langkah gontai memasuki masa depan.

Di kawasan ASEAN saja, negara kita kini termasuk yang paling sengsara, dilihat dari human development index dan educational index. Pencapaian IImu pengetahuan dan teknologi, kemajuan ekonomi, stabilitas sosial, dan kemampuan hankam kita kini jauh tertinggal di belakang, bahkan dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Untung masih ada Myanmar dan Timor Leste yang masih menemani Indonesia dalam keterbelakangan multi­dimensional.

Allahu Akbar 3x walilllahil hamd.

Apa sesungguhnya yang hilang dalam hidup dan kehidupan kita? Dari sudut pandang al-Qur’an, kazanah kehidupan yang hilang itu adalah semangat dan kesanggupan berkurban kita. Ternyata untuk menggapai surga jannatun­naiem diperlukan ketahanan mental, semangat kuat dan kesanggupan berkurban untuk membangun masa depan yang lebih cerah dan cemerlang.

Allah berfirman: ” Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan ( dengan bermacam-macam cobaan ) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : “Bilakah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, pertolongan Allah itu amat dekat (al-Qur’an: al-Baqarah 214 )

Juga firman Nya: ” Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad/berjuang dl antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (al-Qur’an: ‘Ali Imran 142)

Saudara-saudaraku yang berbahagia:

Seandainya pemerintah kita dan segenap anak bangsa berjuang dan berkorban dalam arti luas secara bersama-sama, niscaya masalah-masalah besar kita akan dapat kita tanggulangi, tahap demi tahap. Allah tidak akan membebani kita, kecuali sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Yang penting mari kita berikan dan kita korbankan apa yang kita miliki untuk kebaikan bersama. Paling tidak di lingkungan yang paling kecil, di RT/RW kita, di tempat kerja kita, dimana pun kita berada, kita infakkan sebagian rejeki kita untuk kebaikan dan perbaikan kehidupan kita bersama.

Akhirnya kita do’akan semoga para hujjaj yang baru saja selesai menunaikan ibadah haji mendapat haji yang mabrur dan maqbul. Mereka insya Allah menjadi hamba-hamba Allah yang betambah-tambah pengabdiannya untuk masyarakat, bangsa dan negara demi mencapai ridla Allah SWT.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar